Entri Populer

Senin, 01 November 2010

Faktor Penyebab Terjadinya ISPA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi Saluran pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli) (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti saluran sinus, rongga telinga tengah, dan pleura. Secara anatomik, ISPA dikelompokkan menjadi ISPA atas misalnya batuk pilek, faringitis, tonsilitis dan ISPA bawah seperti bronchitis, brinkilitis, pneumonia. ISPA atas jarang menimbulkan kematian walupun insidennya jauh lebih tinggi dari ISPA bawah (Said, 1995 dalam Safatari, 2009).
ISPA merupakan salah satu penyebab kematian pada anak di negara sedang berkembang. ISPA ini menyebabkan 4 dari 15 juta kematian pada anak berusia di bawah 5 tahun pada setiap tahunnya. Setiap anak balita diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya dan proporsi kematian yang disebabkan ISPA mencakup 20-30% (Suhandayani, 2006).
Di Indonesia, ISPA selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh kematian balita (Anonim, 2008 dalam Syair, 2009).
Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian ISPA pada anak bayi dan balita yakni faktor intrisik (umur, satutus gizi, status imunisasi, jenis kelamin) dan faktor eksttrinsik (perumahan, sosial ekonomi dan pendidikan) (Safatari, 2009). Penelitian Suhandayani (2007) diperoleh bahwa umur, kondisi rumah dan kepadatan hunian, kebiasaan merokok dalam rumah dan adanya kontak dengan penderita ISPA cenderung mempengaruhi kejadian ISPA.
Berdasarkan hasil riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, menunjukkan; prevalensi nasional ISPA: 25,5% (16 prevalensi di atas angka nasional), angka kesakitan (morbiditas) pneumonia bayi: 2,2 %, balita: 3%, angka kematian (mortalitas) pada bayi 23,8% dan pada balita 15,5%. Hal itu disampaikan Menkes dr.Endang R. Sedyaningsih, MPH, Dr.PH ketika membuka seminar pneumonia, The Forgotten Killer of Children tanggal 2 November 2009 di Universitas Padjadjaran Bandung (depkes, 2009).
Gejala penyakit ISPA di provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2008 menempati urutan pertama dari sepuluh besar penyakit yang ada di masyarakat yakni dengan jumlah penderita mencapai 72.413 jiwa (Septiono, 2009). Sementara itu Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka melaporkan bahwa angka kejadian ISPA di Kabupaten Kolaka pada tahun 2008 menempati urutan pertama dari 10 besar penyakit yang ada di Kabupaten Kolaka yakni mencapai 471.269 kasus (Dinkes Kolaka, 2009).
Terkait hal itu, untuk wilayah kerja Puskesmas Watubangga Kecamatan Watubangga Kabupaten Kolaka pada Januari – Oktober 2009 kejadian ISPA pada balita menduduki urutan pertama dari sepuluh besar penyakit yang menyerang anak balita yakni mencapai 316 kasus. Berdasarkan hal ini, maka penulis sangat beralsan untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingginya Angka Kejadian ISPA di Puskesmas Watubangga Kecamatan Watubangga Kabupaten Kolaka Tahun 2010”.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “faktor-faktor apakah yang mempengaruhi tingginya angka kejadian ispa di Puskesmas Watubangga Kecamatan Watubangga Kabupaten Kolaka Tahun 2010”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka kejadian ispa di Puskesmas Watubangga Kecamatan Watubangga Kabupaten Kolaka.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi umur balita yang menderita ISPA
b. Mengidentifikasi status gizi balita yang menderita ISPA
c. Mengidentifikasi status imunisasi balita yang menderita ISPA
D. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan masukan bagi perumusan kebijakan program pengendalian penyakit ISPA
2. Sebagai bahan informasi bagi pemerintah Kecamatan Watubangga
3. Sebagai bahan acuan bagi penelitian selanjutnya mengenai penyakit ISPA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
1. Pengertian
Infeksi Saluran pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli) (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti saluran sinus, rongga telinga tengah, dan pleura. Secara anatomik, ISPA dikelompokkan menjadi ISPA atas misalnya batuk pilek, faringitis, tonsilitis dan ISPA bawah seperti bronchitis, brinkilitis, pneumonia. ISPA atas jarang menimbulkan kematian walupun insidennya jauh lebih tinggi dari ISPA bawah (Said, 1995 dalam Safatari, 2009).
Istilah ISPA yang merupakan singkatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut mulai diperkenalkan pada tahun 1984 setelah dibahas dalam lokakarya Nasional ISPA di Cipanas. Istilah ini merupakan padanan istilah Inggris Accute Respiratory Infections disingkat ARI. Dalam lokakarya ISPA I tersebut ada dua pendapat, pendapat pertama memilih istilah ISPA (infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan pendapat kedua memilih ISNA (Infeksi Saluran Nafas Akut). Pada akhir lokakarya diputuskan untuk memilih ISPA dan istilah ini pula dipakai hingga sekarang (Depkes RI, 1996 dalam Suhandayani, 2007).
ISPA adalah radang akut saluran pernapasan atas ataupun bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus, maupun parenkim paru (Alsgaf dan Mukty, 2006 dalam Safatari, 2009).
ISPA adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari, dan atau lebih dari saluran nafas, mulai dari hidung (saluran attas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telingga tengah dan pleuran (Anonim, 2007 dalam Syair, 2009).
Menurut Depeks (1998) dalam Fuad (2008) istilah ISPA mengandung 3 unsur, yaitu infeksi, saluran pernafasan dan akut. Pengertian atas batasan masing-masing unsure adalah sebagai beriikut :
a. Yang dimaksud dengan infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
b. Yang dimaksud dengan saluran pernafasan adalah organ yang mulai dari hindung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Dengan demikian ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafsan bagian atas, saluran nafas bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini maka jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract).
c. Yang dimaksud dengan infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari. Batas 14 hari ini diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari (Depkes, RI, 1998 dalam Fuad, 2008).
2. Etiologi
Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen, yang disebabkan oleh berbagai etiologi. Etiologi ISPA terdiri dari 300 lebih jenis virus, bakteri dan rikettsia serta jamur. Virus penyebab ISPA antara lain golongan mikrovirus (termasuk di dalamnya virus influenza, virus pra-influensa dan virus campak), dan adenovirus. Bakteri penyebab ISPA misalnya: streptokokus hemolitikus, stafilokokus, pneumokokus, hemofils influenza, bordetella pertusis dan karinebakterium diffteria (Achmadi, dkk., 2004 dalam Arifin, 2009). Bakteri tersebut di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Bisasnya bakteri tersebut menyerang anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah.
Untuk golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus para-influenza, virus influenza, dan virus campak) dan adenovirus. Virus para-influensa merupakan penyebab terbesar dari sindroma batuk rejan, bronkiolitis dan penyakit demam saluran nafas bagian atas. Untuk virus influenza bukan penyebab terbesar terjadinya sidroma saluran pernafasan kecuali hanya epidemmi-epidemi saja. Pada bayi dan anak-anak, virus influenza merupakan penyebab terjadinya lebih banyak penyakit saluran nafas bagian atas dari pada saluran nafas bagian bawah (Siregar dan Maulany, 1995 dalam Arifin, 2009).
3. Tanda-Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala penyakit infeksi saluran pernafasan dapat berupa batuk, kesulitan bernafas, sakit tenggorokan, pilek,, demam dan sakit kepala (Depkes, RI, 1993 dalam Fuad, 2008).
4. Patofisiologi
Terjadinya infeksi antara bakteri dan flora normal di saluran nafas. Infeksi oleh bakteri, virus dan jamur dapat merubah pola kolonisasi bakteri. Timbul mekanisme pertahanan pada jalan nafas seperti filtrasi udara inspirasi di rongga hidung, refleksi batuk, refleksi epiglotis, pembersihan mukosilier dan fagositosis. Karena menurunnya daya tahan tubuh penderita maka bakteri pathogen dapat melewati mekanisme sistem pertahanan tersebut akibatnya terjadi invasi di daerah-daerah saluran pernafasan atas maupun bawah (Fuad, 2008).
5. Klasifikasi
Pusdiknakes, (1993 dalam Fuad, 2008) mengklasifikasikan penyakit Infeksi saluran Pernapasan Akut (ISPA) atas infeksi saluran pernapasan akut bagian atas dan infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah.


a. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Bagian Atas
Adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas di sebelah atas laring. Kebanyakan penyakit saluran nafas mengenai bagian atas dan bawah secara bersama-sama atau berurutan, tetapi beberapa di antaranya adalah Nasofaringitis akut (salesma), Faringitis akut (termasuk Tonsilitis dan Faringotositilitis) dan rhinitis (Pusdiknakes, 1993 dalam Fuad, 2008).
b. Infeksi Saluran Pernafasan Bagian Bawah
Adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas bagian bawah mulai dari laring sampai dengan alveoli. Penyakit-penyakit yang tergolong Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) bagian bawah : Laringitis, Asma Bronchial, Bronchitis akut maupun kronis, Broncho Pneumonia atau Pneumonia (Suatu peradangan tidak saja pada jaringan paru tetapi juga pada brokioli (Pusdiknakes, 1993 dalam Fuad, 2008).
Sementara itu berdasarkan derajat keparahannya ISPA dibagi menjadi 3 golongan yaitu ISPA ringan (bukan pneumonia), ISPA (peumonia) dan ISPA berat (pneumonia berat). Khusus untuk bayi di bawah dua bulan, hanya dikenal ISPA berat dan ISPA ringan (tidak ada ISPA sedang). Batasan ISPA berat untuk bayi kurang dari dua bulan adalah bila frekuensi nafasnya cepat (60 kali per menit atau lebih) atau adanya tarikan dinding dada yang kuat. Pada dasarnya ISPA ringan dapat berkembang menjadi ISPA sedang atau ISPA berat jika keadaan memungkinkan misalnya kurang mendapatkan perawatan atau daya tahan tubuh pasien kurang. Gejala ISPA ringan dapat dengan mudah diketahui orang awam sedangkan ISPA sedang dan berat memerlukan beberapa pengamatan sederhana (Suyudi, 2002 dalam Arifin, 2009).
6. Bahaya
Salah satu bahaya atau akibat terburuk dari ISPA adalah kematian. Berdasarkan data-data dari Departemen Kesehatan maka angka kematian bayi di Indonesia adalah 90,3 per 1.000 kelahiran hidup berarti dari 1.000 bayi yang hidup lebih dari 90 orang diantaranya meninggal sebelum mencapai 1 tahun. Angka kematian balita di Indonesia lebih dari 17 orang diantaranya akan meninggal sebelum usia 5 tahun oleh berbagai sebab. Menurut penelitian yang dilakukan tahun 1980; 22,1% sebab kematian bayi di Indonesia adalah akibat ISPA. Sedangkan data tahun 1983 menunjukkan bahwa hampir 40% kematian anak berumur 2 tahun sampai 12 bulan adalah disebabkan oleh ISPA (Depkes RI, 1985 dalam Fuad, 2008).
7. Penularan
Kuman penyakit ISPA ditularkan dari penderita ke orang lain melalui udara pernapasan atau percikan ludah penderita. Pada prinsipnya kuman ISPA yang ada di udara terhisap oleh pejamu baru dan masuk ke seluruh saluran pernapasan. Dari saluran pernafasan kuman menyebar ke seluruh tubuh apabila orang yang terinfeksi ini rentan, maka ia akan terkena ISPA (Depkes RI, 1985 dalam Fuad, 2008).
8. Pencegahan
Keadaan gizi dan keadaan lingkungan merupakan hal yang penting bagi pencegahan ISPA. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah :
a. Mengusahakan agar bayi mempunyai gizi yang baik
b. Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi
c. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan dengan berperilaku hidup bersih dan sehat
d. Pengobatan segera (Anonim, 2009).
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian ISPA
Faktor-faktor yang meningkatkan resiko kematian akibat ISPA adalah umur di bawah du bulan, kurang gizi, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, rendahnya tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan, lingkungan rumah imunisasi yang tidak memadai dan menderita penyakit kronis (Arifin, 2009).
Keadaan lingkungan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Banyak aspek kesejahteraan manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan banyak penyakit dapat dimulai, didukung, ditopang dan dirangsang oleh faktor-faktor lingkungan. Kerusakan lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Pencemaran udara misalnya, dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada saluran pernapasan (Mulia, 2005).
Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian ISPA pada anak bayi dan balita yakni faktor intrisik (umur, satutus gizi, status imunisasi, jenis kelamin) dan faktor eksttrinsik (perumahan, sosial ekonomi dan pendidikan) (Safatari, 2009). Resiko akan berlipat ganda pada anak usia di bawah dua tahun yang daya tahan tubuhnya masih belum sempurna. ISPA pada anak di bawah dua tahun harus diwaspadai oleh orang tua, karena dapat menyebabkan kematian.
1. Umur
Umur mempunyai pengaruh besar terhadap ISPA dimana pada anak bayi memberikan gambaran klinik yang lebih jelek bila dibandingkan dengan orang dewasa. Gambaran klinik yang jelek dan tampak lebih berat tersebut terutama disebabkan oleh infeksi virus pada bayi dan anak yang belum memperoleh kekebalan alamiah (Alasagaf dan Mukti, 2008 dalam Saftari, 2009).
Umur diduga terkait dengan sistem kekebalan tubuhnya. Bayi dan balita merupakan kelompok yang kekebalan tubuhnya belum sempurna, sehingga masih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi, semakin muda usia anak makin sering mendapat serangan ISPA (Suwendra, 1988 dalam Suhandayani, 2007).


2. Status Gizi
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normla dari organ-organ serta menghasilkan energi (Supriasa, dkk, 2002 dalam Suhandayani, 2007).
Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari natriture dalam bentuk variabel tertentu (Supriasa, dkk, 2002 dalam Suhandayani, 2007).
Dalam arifin (2009) dijelaskan bahwa keadaan gizi merupakan hal yang penting bagi pencegahan ISPA. Dimana kejadian ISPA dapat dicegah bila anak mempunyai gizi yang baik, mendapatkan ASI sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi, bayi mendapatkan makanan padat sesuai dengan umurnya serta bayi dan anak mendapatkan makanan yang mengandung gizi cukup yaitu mengandung ckupu protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral
3. Status Imunisasi
Dalam suhandayani (2007) dijelaskan bahwa beberapa penelitian yang menjelaskan hubungan antara status imunisasi dengan kejadian ISPA diantaranya penelitian yang dilakukan Tupasi (1985) menyebutkan bahwa ketidakpatuhan imunisasi berhubungan dengan peningkatan penderita ISPA. Penelitian lain yang dilakukan oleh Sievert (1993) menyebut bahwa imunisasi yang lengkap dapat memberikan peranan yang cukup berarti terhadap pencegahan kejadian ISPA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar